Sunday, March 23, 2014

Ketika Bunda Menangis

Sam berumur 2.5 tahun (kurang 4 hari) ketika adiknya, Kejora lahir. Seperti hampir semua anak yang memiliki adik, Sam mengalami masa-masa jealous. Hari pertama dan kedua adiknya di rumah, ketika bangun tengah malam, Sam ikutan bangun. Adiknya menangis, dia juga ikut, karena pengen disayang-sayang sama Bundanya juga.

Waktu itu aku, luar biasa cape, karena harus begadang dan menghadapi Sam yang cengeng, yang ada 'sumbuku' jadi semakin pendek. Gampang emosi. Instead of membujuk Sam, aku menggunakan ancaman ketika dia menangis: udah diam, diam. Bunda bilang diam. Mau Bunda cubit?

Tentu saja Sam ga diam, mungkin dia juga tau kalo aku ga akan pernah mencubitnya. Dia baru diam setelah aku bujuk.

Beberapa waktu kemudian, penyakit jealousnya sudah mulai berkurang. Tapi karena dia masih terlalu kecil untuk memahami kalo adeknya mau bobo dia harus tenang, jadilah dia selalu 'mengganggu' saat adiknya mau bobo.

Tentu saja aku kesal, karena istirahat atau duduk manis untuk beberapa jam jadi berantakan. Saking kesalnya aku menangis. Benar-benar menangis dengan berurai air mata.

Sam terdiam beberapa saat. Aku berfikir: bagus, dia mengerti Bundanya kesal dan menangis. Tidak berapa lama: Udah diam, diam. Ck, aku bilang diam. Nanti aku cubit, mau?

Good God! Anakku beo tercanggih sedunia!

No comments:

Post a Comment