Ini mungkin satu-satunya tulisan di blog ini yang masuk kategori 'others'. Aku memulai menulis ini karena sahabat, kakak dan mentorku, Arnold daCosta. Hampir setahun yang lalu, dia dipanggil Bapa di surga, kembali pada-Nya.
Kemarin, aku mimpi ketemu Kak Arnold, keesokan sorenya, aku menghubungi Irene lewat wa, bertukar kabar dan bercerita aku mimpi ketemu si Kakak dan aku kangen padanya (*sigh*). Irene lalu memintaku untuk menuliskan pendapatku tentang Arnold, supaya Andrea, putri mereka bisa mengenal papinya lewat sahabatnya. Yang dengan senang hati aku penuhi.
Malamnya, aku bercerita tentang Arnold kepada suamiku (entah untuk keberapa kalinya). Suamiku, entah emang karena dia orangnya tidak emosional, atau emang dia tidak pernah mengerti bahwa ada hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak selalu melibatkan romantisme. contohnya aku dan kak Arnold.
Aku lupa bagaimana dan kapan tepatnya aku berkenalan dengan kak Arnold, mungkin dalam tahun pertama aku kerja di WVI. Ketika berkunjung ke Alor (saat itu dia menjadi ADPM di sana), dia mengajakku berkunjung ke proyeknya, makan di sana dan di sini, berkunjung ke desa ini dan itu, bercerita ke sana dan kemari.
Interaksi paling banyak ketika dia bergabung dengan tim TST (Techical Support Team) di Jakarta. Sebagai seorang Monev, dia banyak memberikan support dan dampingan kepada Monev di tingkat proyek (salah satunya aku). Dia adalah guru yang baik di satu sisi. Dia bisa membuatku menyukai statistik yang tadinya momok buatku. Dia mengajarkan padaku berfikir logis, menuangkan dalam bentuk diagram atau tulisan. Dia juga mentor yang sangat perhatian. Bisa mendengarkan kisah dan tangisanku yang ga betah di pedalaman karena data yang tidak terkumpul. Tapi dia juga mentor yang keras, yang tidak segan mencelaku, yang kadang mengeluarkan kata-kata 'jahat' kala aku tidak bisa memahami apa yang dia sampaikan. Meski, setelah itu dia akan minta maaf.
Dia kakak yang tidak hanya peduli dengan pekerjaanku, tapi juga peduli dengan hubungan asmara. Ha-ha-ha. Dia sering meledek aku dan dua sahabatku yang saat itu masih jomblo. Aku ingat benar dia pernah bilang: Lu kenapa belum punya pacar sih? Aku: Yaaah, belum nemu pacar aja. Arnold: yang cari dong. Aku: Udah. Arnold: caranya kurang progresif. Aku: Jadi? Arnold: lu pernah liat pedagang asongan yang jual permen di bis? Nah, dia tuh ga cuma obral, tapi juga letakin permen dipangkuan orang, trus bilang, kalo ga suka nanti saya ambil lagi. Aku: (bengong, pengen ngakak, tapi juga pengen nabok).
I miss you a lot kak.
Aku merindukan kak Arnold yang selalu menertawakan hal-hal yang perlu ditertawakan, meski kadang aku sulit melihat sisi lucunya. Aku merindukan kak Arnold yang memberikan banyak cerita inspiratif yang membuatku semangat kembali. Aku merindukkan kak Arnold yang menjadi tempat bertanya saat aku butuh pandangan yang 'nyeleneh'.
Kak, aku kangen. May you rest in peace. Till we meet again. Aku baru saja mengirimkan tuliskanku tentang elu ke Andrea dan Irene. Mereka pasti lebih kangen elu. Tapi di atas segalanya, Irene adalah salah satu perempuan terhebat dan terkuat yang aku pernah kenal.
I really miss you kak.
Kemarin, aku mimpi ketemu Kak Arnold, keesokan sorenya, aku menghubungi Irene lewat wa, bertukar kabar dan bercerita aku mimpi ketemu si Kakak dan aku kangen padanya (*sigh*). Irene lalu memintaku untuk menuliskan pendapatku tentang Arnold, supaya Andrea, putri mereka bisa mengenal papinya lewat sahabatnya. Yang dengan senang hati aku penuhi.
Malamnya, aku bercerita tentang Arnold kepada suamiku (entah untuk keberapa kalinya). Suamiku, entah emang karena dia orangnya tidak emosional, atau emang dia tidak pernah mengerti bahwa ada hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak selalu melibatkan romantisme. contohnya aku dan kak Arnold.
Aku lupa bagaimana dan kapan tepatnya aku berkenalan dengan kak Arnold, mungkin dalam tahun pertama aku kerja di WVI. Ketika berkunjung ke Alor (saat itu dia menjadi ADPM di sana), dia mengajakku berkunjung ke proyeknya, makan di sana dan di sini, berkunjung ke desa ini dan itu, bercerita ke sana dan kemari.
Interaksi paling banyak ketika dia bergabung dengan tim TST (Techical Support Team) di Jakarta. Sebagai seorang Monev, dia banyak memberikan support dan dampingan kepada Monev di tingkat proyek (salah satunya aku). Dia adalah guru yang baik di satu sisi. Dia bisa membuatku menyukai statistik yang tadinya momok buatku. Dia mengajarkan padaku berfikir logis, menuangkan dalam bentuk diagram atau tulisan. Dia juga mentor yang sangat perhatian. Bisa mendengarkan kisah dan tangisanku yang ga betah di pedalaman karena data yang tidak terkumpul. Tapi dia juga mentor yang keras, yang tidak segan mencelaku, yang kadang mengeluarkan kata-kata 'jahat' kala aku tidak bisa memahami apa yang dia sampaikan. Meski, setelah itu dia akan minta maaf.
Dia kakak yang tidak hanya peduli dengan pekerjaanku, tapi juga peduli dengan hubungan asmara. Ha-ha-ha. Dia sering meledek aku dan dua sahabatku yang saat itu masih jomblo. Aku ingat benar dia pernah bilang: Lu kenapa belum punya pacar sih? Aku: Yaaah, belum nemu pacar aja. Arnold: yang cari dong. Aku: Udah. Arnold: caranya kurang progresif. Aku: Jadi? Arnold: lu pernah liat pedagang asongan yang jual permen di bis? Nah, dia tuh ga cuma obral, tapi juga letakin permen dipangkuan orang, trus bilang, kalo ga suka nanti saya ambil lagi. Aku: (bengong, pengen ngakak, tapi juga pengen nabok).
I miss you a lot kak.
Aku merindukan kak Arnold yang selalu menertawakan hal-hal yang perlu ditertawakan, meski kadang aku sulit melihat sisi lucunya. Aku merindukan kak Arnold yang memberikan banyak cerita inspiratif yang membuatku semangat kembali. Aku merindukkan kak Arnold yang menjadi tempat bertanya saat aku butuh pandangan yang 'nyeleneh'.
Kak, aku kangen. May you rest in peace. Till we meet again. Aku baru saja mengirimkan tuliskanku tentang elu ke Andrea dan Irene. Mereka pasti lebih kangen elu. Tapi di atas segalanya, Irene adalah salah satu perempuan terhebat dan terkuat yang aku pernah kenal.
I really miss you kak.