Monday, March 24, 2014

Breast Pumping

Pompa ASI merk apa sih yang paling bagus?

Untuk pertanyaan yang selalu ditanyakan kepadaku itu, maka aku akan menjawab: tangan! Tapi tanyakan itu pada orang lain, jawabnya beda-beda. Kesimpulannya, tiap orang akan mempunyai preferensi masing-masing. Jadi yang aku tulis di sini adalah, kenapa aku memompa dengan tangan, bukan kenapa harus memompa dengan tangan.

Sebelum Sam lahir, aku sudah browsing sana sini tentang breast pumping. Waktu lahiran, cerita mau belajar pompa ASI dong. Minta suami belikan breastpump. Anjrit, yang electric mahil amir yak? Akhirnya mau coba yang manual. Belilah merk P***on. Dicoba, yang ada puting sakit, tangan kram, ASI dikit.

Curhat sama temen, mau beli M***la, tapi kok ya mahal ya. Temen bilang, oh aku pake yang ga semahal itu kok, bagus, sekali pompa bisa dapat 300ml, pake acara sambil baca lagi. Oiii maaak, berhubung saat menyusu Sam ASI ngos-ngosan (ga pernah lebih dari 30ml sekali pompa), aku langsung semangat 45 waktu dia nawarin mau menghadiahkan breastpump itu. Merknya Core (atau Care ya). Tapiiii, tetapi aja hasilnya sama dengan merk manual yang aku coba sebelumnya.

Frustasi, aku ingat waktu itu pernah ada artikel tentang pompa manual. Aku coba, eh, kok lumayan ya? Lebih banyak. Ga sampe 300ml sih, tapi significan banyak. Akhirnya sampe Joy lahirpun, aku ga repot-repot beli breastpump lain. Pake tangan ajah.

Keuntungan pake tangan? Gampang! Praktis. Ga perlu steril. Tinggal ke toilet, cuci tangan, voila! mulailah pertualangan memompa. Dan ini sangat practical ketika aku travel. Perjalanan 12 jam di pesawat atau mobil, gimana mau steril alat? Kalo tangan kan tinggal cuci tangan, ambil botol dan selamat memompa.

Sunday, March 23, 2014

Ketika Bunda Menangis

Sam berumur 2.5 tahun (kurang 4 hari) ketika adiknya, Kejora lahir. Seperti hampir semua anak yang memiliki adik, Sam mengalami masa-masa jealous. Hari pertama dan kedua adiknya di rumah, ketika bangun tengah malam, Sam ikutan bangun. Adiknya menangis, dia juga ikut, karena pengen disayang-sayang sama Bundanya juga.

Waktu itu aku, luar biasa cape, karena harus begadang dan menghadapi Sam yang cengeng, yang ada 'sumbuku' jadi semakin pendek. Gampang emosi. Instead of membujuk Sam, aku menggunakan ancaman ketika dia menangis: udah diam, diam. Bunda bilang diam. Mau Bunda cubit?

Tentu saja Sam ga diam, mungkin dia juga tau kalo aku ga akan pernah mencubitnya. Dia baru diam setelah aku bujuk.

Beberapa waktu kemudian, penyakit jealousnya sudah mulai berkurang. Tapi karena dia masih terlalu kecil untuk memahami kalo adeknya mau bobo dia harus tenang, jadilah dia selalu 'mengganggu' saat adiknya mau bobo.

Tentu saja aku kesal, karena istirahat atau duduk manis untuk beberapa jam jadi berantakan. Saking kesalnya aku menangis. Benar-benar menangis dengan berurai air mata.

Sam terdiam beberapa saat. Aku berfikir: bagus, dia mengerti Bundanya kesal dan menangis. Tidak berapa lama: Udah diam, diam. Ck, aku bilang diam. Nanti aku cubit, mau?

Good God! Anakku beo tercanggih sedunia!