Monday, May 12, 2014

When Nursing Mom Needs to Travel (2)

Nah, kalo di post yang lalu aku menceritakan 'alat tempurku', sekarang aku mau share apa yang harus lakukan sebelum dan selama perjalanan. Ini bisa saja berbeda dengan pengalaman mommies yang lain ya.

Yang pertama adalah: be positif. Yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Bayiku (yang biasanya dibawah pengawasan neneknya) akan baik-baik saja. Dan aku akan pulang dengan membawa stok ASIP buatnya. Biasanya perasaan ini akan membuat aku lebih tenang. Pikiran ini juga yang membuatku bisa memompa di mana saja, termasuk di toilet. Aku percaya bahwa ASI akan baik-baik saja meski harus dipompa di toilet. Dari berapa stok ASI yang aku punya, ada yang dipompa di toilet. Mulai dari toilet bandara sampe toilet ruang meeting, karena ga ada nursing room.

Kedua, selama dalam perjalanan: fokus adalah memompa ASI, bukan awareness raising tentang ASI. Dalam perjalanan, kadang aku harus meminta driver untuk meninggalkan saya di mobil sendirian. "Nanti saya miskol kalo udah selesai ya Pak. Saya mau pompa ASI dulu." Kalau driver kantor sih sudah paham banget, karena saya mempunyai kebiasaan pompa di ruangan dengan menempelkan tulisan di pintu masuk. Tapi kalau untuk driver baru, atau teman-teman lain di tempat yang aku datangi, mereka yang tidak mengerti, aku tidak ingin membuang energiku untuk menjelaskan. Aku biasanya hanya bilang: Pak saya butuh ruang untuk pompa ASI. Saya mau di mobil, nanti saya miskol kalau sudah selesai ya. Saya butuh 10-15 menit paling lama. Begitu juga kalau misalnya aku harus meminjam ruangan kantor (mitra atau masyatakat): Bu, bisa pinjam ruangan ga? Saya mau pompa ASI.

Biasanya tidak satupun dari mereka yang bertanya lebih lanjut tentang itu. Entah sungkan atau tidak tahu, tapi sepertinya yang pertama. Dan aku memilih fokus dengan pompa ASI, bukan untuk menjelaskan. Kecuali kalau mereka bertanya. Ada satu-dua kali, biasanya ibu-ibu bertanya apa yang sedang aku lakukan. Maka aku akan menjelaskan panjang lebar tentang ASI. Pikiran ini membuat aku lebih santai, tidak terbebani untuk menceritakan dan mengajak mereka mengerti tentang ASI. Tujuanku saat ini adalah mempompa ASI meski sedang dalam perjalanan, jadi bukan menyadarkan orang tentang pentingnya ASI.

Ketiga, jangan malu! Serius, ini jurus lain yang tak kalah pentingnya. Jangan malu. Kita ga akan malu-maluin kok kalo untuk bayi kita. Pernah, perjalanan Medan-Jakarta-Doha-Baltimore, aku minta sama Mbak-mbak di restoran Hoka-Hoka Bento CGK untuk menyimpan ice gel-ku supaya tetap beku sehingga dalam perjalanan berikutnya (sekitar 18 jam) aku masih bisa punya ice gel yang bisa menjaga ASIP yang sudah aku pompa di CGK tetap dingin. Aku juga meminta flight attendant untuk menyimpan ice gel dan ASIP dalam perjalanan pulang. Rasa jangan malu juga membuatku cuek bebek memompa ASI di kursi dudukku, ketika para penumpang lain sedang tidur (atau pura-pura tidur hihihihi). Anyway, kebayang ga sih kalo pompa pake alat, suaranya ngocor cor cor, kalo pake tangan, suaranya lembuuuut, jadi ga mengganggu banget sama tetangga sebelah. Listnya bakal panjang: mbak di Indomaret, yang aku mintai titip ice gel, staff hotel di Baltimore yang aku titipin semua ASIP di freezer dapur mereka karena ga muat di kulkas kamar, staff hotel di Lampung yang ASIP aku titip di kulkas minuman botol mereka dan masih banyak list yang lain.

Keempat, santai. Kadang agak-agak stress sih kalo melewati x-ray bandara dengan membawa ASI yang sebagian sudah cair sebagian masih beku. Kadang kuatir kalo ga bisa lewat. Tapi sepanjang pengalaman, nursing mom punya privileged kok. Bayangkan, kalo orang lain ga bisa bawa cairan untuk penerbangan internasional lebih dari 200ml, kita bisa bawa berliter-liter ASIP. Aku pernah bawa lebih 3 liter dan amaaaan hehehehe. Semoga ini tetap berlanjut (mulai cari info apakah itu berlaku di Nepal dan KL untuk perjalanan minggu depan hehehehe).

Kelima, be creative. Sejauh ini aku ga melihat ada rumus pasti dalam travel buat emak-emak yang menyusui, jadi yang improvisasi aja. Menurutku, nursing mom yang menggunakan tissue anti bakteri untuk membersihkan peralatan pompa ASI-nya juga kreatif. Aku ga pernah mikir itu sebelumnya. Aku melakukan banyak adegan kreatif selama proses perjalanan. Salah satunya, ketika stok ASI melebihi kapasitas tas, maka aku menggunakan bagian atas tas yang aku lapis dengan aluminium foil. Creative juga berarti melihat semua kesempatan yang ada. Lagi travel panjang, sementara ASIP harus tetap dingin, liat di cafe ada kulkas, minta mereka menitipkan ASIP di sana, jadi setidaknya ASIP dalam suhu stabil sampe perjalanan berikutnya. Creative membuat aku berfikir, kalo lagi naik pesawat, cari tempat duduk yang di gang, jadi kalo mau pompa gampang cuci tangan trus pompa. Atau duduk di gang juga membuat kita gampang melihat row mana yang kosong jadi bisa mompa di sana dengan tenang.

When Nursing Mom Needs to Travel (1)

Kadang-kadang aku perlu melakukan perjalanan. Aku tidak menggunakan kata 'harus' karena kesannya terlalu keras ya, harus - kaya ga punya pilihan, sedangkan perlu - kadang emang kita memilih untuk melakukan perjalanan itu. Yang aku bicarakan di sini adalah perjalanan tanpa membawa bayi.

Meski demikian, aku selalu berusaha untuk tetap memompa ASI selama proses perjalanan. Selain supaya stok tetap ada, juga untuk memastikan ASI-nya ga kering pas kembali pulang, kan kasian bayiku. Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk tetap memompa ASI meskipun dalam perjalanan? 

    Botol penyimpanan ASI
    Tas penyimpanan ASI
  • Apron menyusui. Kain ini sangat efektif dalam kegiatan memompa selama dalam perjalanan. Meskipun kadang aku memompa di nursing room, kan tetap aja ga rileks kalo ga pake penutup kaya apron itu. Jadi, apron adalah list yang harus aku bawa ketika travelling. Apron ini bisa dibeli online atau di toko peralatan bayi.
  • Botol penyimpan ASI. Aku selalu mengandalkan botol UC1000 bekas. Duluuuu banget waktu jaman Sam, aku stok banyak botol ini. Tinggal beli tutupnya yang banyak dijual di toko plastik dan voila! jadilah botol penyimpanan ASI yang murah meriah. Daripada harus nyimpan di botol susu yang mahil itu. Selain mahil, juga makan banyak tempat. Botol ini bisa muat di kantong, jadi bisa ngabur bentar trus pas balik-balik botol udah masuk kantong baru kemudian di pindah ke tas hehehe.
  • Tas penyimpanan ASI. Ini juga perlengkapan ASI lain yang aku beli online. Ada banyak sekali model tas penyimpanan ASI yang dijual. Punyaku yang ada dua kompartemen, bawah untuk ASI dan atas bisa untuk apa aja. Kenapa aku beli yang model begini? Karena yang paling murah hehehehe. Serius, tas ini kurang dari dua ratus ribu dan gratis ice gel hahaha. Tapi akhirnya, aku bersyukur memilih tas ini, karena sangat praktis untuk travelling atau ke kantor. Bagian bawah aku isi dengan ice gel, bagian atas aku isi dengan botol2 kosong plus kotak makan siang. Jadi, berangkat kantor cuma bawa tas tangan dan tas Gabag-ku ini. Oh, kalo perjalanan luar kota, tas ini aku isi juga dengan apronku. 
  • Botol-botol UC di bagian atas tas
  • Ice Gel. Kadang orang menyebutnya dengan blue ice, karena ada yang warnanya biru. Dulu ga beli sih ya, ini bagian dari gratisan kalo beli tas di atas. Tapi pernah waktu travel, aku butuh ice gel tambahan, aku nyari di toko kaya Ace Hardware begitu, dapet blue ice. Kalo kemaren liat di link ol shop seharga 30-50ribu. Ice gel ini penggunaannya gampang banget. Tinggal dimasukkan di freezer sampe beku (kadang butuh semalaman), trus pas mau dipake diambil deh. Untuk ukuran ice gel seperti gambar di bawah, biasanya tahan 8-12 jam, tergantung suhu di luar juga. Pernah waktu travel ke Doloksanggul yang duingin itu, selama 12 jam masih ada bagian es yang membeku. Tapi pernah juga kurang dari 10 jam karena cuaca yang puanas. Well, biasanya sih, meskipun udah mencair, masih ada nuansa dingin, so, ASIP masih sangat aman. Ga tau juga sampe berapa lama ice gel itu bisa tahan. Yang sekarang aku pake, udah dipake sekitar 8 bulan ya, dan salah satu udah mulai brinjil2 gelnya, ga bentuk gel kaya waktu pertama kali beli. Mungkin sudah waktunya ganti, karena ada hubungannya dengan berapa lama dia bisa beku. 
    Ice gel di bagian bawah tas
    Biasanya, kalau travel aku membawa paling tidak dua ice gel ukuran besar, yang kalau diletakkan dengan posisi melintang memenuhi panjang tas (lihat gambar), lalu botol-botol berisi ASIP diletakkan di tengahnya. Kadang, kalau aku travel ke tempat yang minim fasilitas, misalnya hotel yang ga punya kulkas, maka aku biasanya berimprovisasi. Ice gel yang pertama akan aku titipkan di kulkas hotel, sedangkan ice gel yang kedua akan aku biarkan di tas. Ice gel yang di tas akan berguna ketika aku memompa ASI malam hari. Jadi habis pompa, posisi masih dingin. Paginya aku bisa titipkan semua ASIP yang aku pompa malamnya di kulkas hotel, plus ice gel yang di tas. Ice gel yang aku titip malam sebelumnya, aku ambil kembali untuk digunakan siangnya. Karena biasanya siang hari aku ke lapangan dan sering memompa di jalan, jadi butuh paling tidak satu ice gel. Pengalaman selama ini, suhu tetap dingin kok. Belum pernah diukur sama termometer sih, cuma cukup dingin, karena ice gelnya cukup besar.


  • Plastik penyimpanan ASI. Ini juga bagian peralatan tempur kalo lagi traveling. Terutama kalo travelnya lebih dari 2 hari. Kalo cuma dua hari sih, biasanya cukup bawa botol-botol UC itu. Tapi kalo udah lebih, bayangkan berapa banyak botol yang dibutuhkan. Bayangkan juga beratnya. Misalnya, kalo lagi travel butuh pompa 4-5 kali dalam waktu 24 jam. 
    Plastik dengan ASI yang sudah dibekukan
      Nah, kalo travel 3 hari kan butuh selusin tuh. Pengalaman menunjukkan bawa lebih dari 10 botol berisik banget di tas itu hihihi. Selain itu berat. Bawa 2 ice gel plus 10 botol, ga praktis. Jadi, biasanya kalo lebih dari 3 hari, aku akan membawa 6-8 botol UC  (sebagai tempat menampung hasil pompa), lalu dipindah ke plastik dan dibekukan. Plastik ini juga dijual online kok. Dulu pernah beli di toko obat, cuma ga yakin di semua toko obat ada, jadi, kalo emang mau travel dan memutuskan menggunakan plastik, beli dari sekarang deh. Pastikan beli yang sudah disteril ya. Joy biasanya menghabiskan 120-150ml ASIP sekali minum, aku selalu mengisi plastik ASIP dengan kisaran segitu, jadi satu plastik hanya untuk satu kali minum. Dengan plastik ASI ini, membawa pulang ASIP juga lebih praktis, masing-masing plastik yang sudah dikosongkan udaranya, bisa dilipat. Jadi, posisi ice gel ada di kedua sisi tas (memanjang) lalu plastik ASI disusun dan ditumpuk-tumpuk. Pernah beberapa kali aku harus menggunakan bagian atas tas juga, yang tidak ada pelapisnya. Waktu itu stok ASIP nya banyak, jadi aku beli tambahan ice gel untuk bagian atas tas. Untuk bagian atas ini, aku lapis lagi dengan aluminium foil yang tebal, biar suhunya konstan, lalu ice gel dan ASIP dimasukkan. Hasilnya, tas sekecil itu bisa menampung lebih dari 3 liter ASIP dengan 5 bungkus ice gel. 
    1. Sterilizer. Ini juga peralatan yang dibutuhkan kalo travelnya lebih dari 3 hari, kenapa? Karena kita butuh mensteril botol2 yang digunakan untuk menampung ASI sebelum dituang ke plastik. Karena sterilizer cenderung besar, eh bukan karena sterilizerku cenderung besar, maklum sekalian food processor, aku selalu membawa panci listrik yang kecil mungil. Dulu belinya di carefour jaman masih ngekos sana sini, karena sangat efektif kalo mau bikin mie instan hahahaha. Sekarang dia beralih fungsi jadi alat steril. Gampang kok, nyalakan kompornya, isi air, tunggu mendidih. Setelah mendidih, masukkan botol2 dan tutupnya. Setelah itu keringkan. Beratnya ga terlalu berat kok, kurang dari sekilo dengan watt yang kecil, jadi petugas hotel ga akan keberatan kok.
    2. Jangan lupa membawa pencuci botol dan sabunnya. Kalo travel di kota sih gampang ya, tinggal cari minimarket atau supermarket kita bisa beli. Lha, kaya aku yang kadang harus travel ke pedesaan, biasanya udah siap sedia, dimasukkan ke dalam koper.
    Siap berangkat!

    Eh, tunggu! Bagaimana dengan alat pompanya sendiri? Oh iya, maap, lupa disebutkan. Karena aku tipe emak-emak yang gagal menggunakan alat pompa baik yang manual maupun yang elektrik, maka tanganku ini adalah andalannya. Menurutku malah lebih praktis, apalagi kalo aku melakukan perjalanan yang bisa 10-12 jam di perjalanan. Tinggal cuci tangan bersih-bersih dan siap beraksi. Aku ga kebayang apa yang harus aku lakukan kalau harus menggunakan alat pompa itu, sterialnya gimana ya? Kata temen sih, tinggal pake tisu basah anti bakteri hmmm, mungkin bisa, tapi bagaimana menggunakan tisu untuk membersihkan selang-selang itu?