Aku mau cerita tentang perempuan-perempuan yang ada di sekitarku sewaktu aku menyusui anak pertama dan kedua. Mereka adalah gambaran perempuan yang aku yakin ada di mana-mana, yang mendukung, apatis, super extrim dengan pro-ASI atau bahkan anti ASI eksklusif.
Dimulai orang terdekatku: kedua orang tuaku: mertua dan ibu. Salah satu dari mereka, sangat tidak yakin dengan kemampuanku memberikan ASIX (asi exclusive) pada anakku. Komentar negatif selalu diberikan, hingga pernah satu ketika aku tidak tahan dan histeris karena dia mengatakan lebih baik memberikan sufor daripada ASI pada anakku. Kelahiran anak kedua, aku dengan bangga dan tekad kuat untuk ASIX, tapi selalu trauma menyusui kalau dia ada didekatku. Rasanya seperti dihakimi oleh juri ASI. Apalagi dia pernah mengatakan: Kalau menyusui di PD yang satu, PD yang lain mengeluarkan ASI juga ga? Ketika aku jawab tidak, dia mengatakan: berarti ASI ku masih kurang. Oh please!
Sedangkan yang lainnya, mengerti pentingnya ASI buat anakku, tapi juga (sekarang aku tahu) tidak terlalu yakin aku sanggup memberikan ASIX pada anakku karena berat badan Sam yang hanya naik 500gr. Still dia menyimpannya diam-diam sambil terus memberikanku supply makanan yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI.
Perempuan lain: iparku, yang mengatakan aku terlalu pelit sehingga ngotot memberikan ASIX pada anakku. "Kenapa? Kamu sayang ya mengeluarkan uang untuk beli susu formula?"
Atau perempuan lain, yang begitu mengetahui anak pertamaku di bulan keempat mendapatkan tambahan sufor karena BB yang seret, mengatakan: "Wah, berarti anak elu anak sapi dong, bukan anak orang."
Wajah perempuan lain, kedua sahabatku yang menjadi teman curhatku tentang ASI. Dukungan penuh, tanpa judment membuatku nyaman diskusi ASI dengan mereka. Mereka bahkan tetap memberikan support penuh ketika aku memutuskan untuk menambahkan sufor buat Sam.
Oh satu lagi perempuan yang kutemui, seorang perawat klinik anak di RSIA Sri Ratu. Waktu itu aku membawa Sam untuk imunisasi. Aku konsultasi ke dokter kalau aku masih ASIX tapi BB Sam naiknya seret banget. Dia nyeletuk: Lha wong teteknya kecil begitu.
Ada begitu banyak wajah perempuan yang mendukung atau bahkan menghambat (langsung atau tidak langsung) pemberian ASIX. Dan aku semakin menyadari kehadiran mereka ketika aku mulai menyusui Sam dan Joy.
Dimulai orang terdekatku: kedua orang tuaku: mertua dan ibu. Salah satu dari mereka, sangat tidak yakin dengan kemampuanku memberikan ASIX (asi exclusive) pada anakku. Komentar negatif selalu diberikan, hingga pernah satu ketika aku tidak tahan dan histeris karena dia mengatakan lebih baik memberikan sufor daripada ASI pada anakku. Kelahiran anak kedua, aku dengan bangga dan tekad kuat untuk ASIX, tapi selalu trauma menyusui kalau dia ada didekatku. Rasanya seperti dihakimi oleh juri ASI. Apalagi dia pernah mengatakan: Kalau menyusui di PD yang satu, PD yang lain mengeluarkan ASI juga ga? Ketika aku jawab tidak, dia mengatakan: berarti ASI ku masih kurang. Oh please!
Sedangkan yang lainnya, mengerti pentingnya ASI buat anakku, tapi juga (sekarang aku tahu) tidak terlalu yakin aku sanggup memberikan ASIX pada anakku karena berat badan Sam yang hanya naik 500gr. Still dia menyimpannya diam-diam sambil terus memberikanku supply makanan yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI.
Perempuan lain: iparku, yang mengatakan aku terlalu pelit sehingga ngotot memberikan ASIX pada anakku. "Kenapa? Kamu sayang ya mengeluarkan uang untuk beli susu formula?"
Atau perempuan lain, yang begitu mengetahui anak pertamaku di bulan keempat mendapatkan tambahan sufor karena BB yang seret, mengatakan: "Wah, berarti anak elu anak sapi dong, bukan anak orang."
Wajah perempuan lain, kedua sahabatku yang menjadi teman curhatku tentang ASI. Dukungan penuh, tanpa judment membuatku nyaman diskusi ASI dengan mereka. Mereka bahkan tetap memberikan support penuh ketika aku memutuskan untuk menambahkan sufor buat Sam.
Oh satu lagi perempuan yang kutemui, seorang perawat klinik anak di RSIA Sri Ratu. Waktu itu aku membawa Sam untuk imunisasi. Aku konsultasi ke dokter kalau aku masih ASIX tapi BB Sam naiknya seret banget. Dia nyeletuk: Lha wong teteknya kecil begitu.
Ada begitu banyak wajah perempuan yang mendukung atau bahkan menghambat (langsung atau tidak langsung) pemberian ASIX. Dan aku semakin menyadari kehadiran mereka ketika aku mulai menyusui Sam dan Joy.