Friday, September 13, 2013

Seribu Satu Wajah Perempuan dalam ASI

Aku mau cerita tentang perempuan-perempuan yang ada di sekitarku sewaktu aku menyusui anak pertama dan kedua. Mereka adalah gambaran perempuan yang aku yakin ada di mana-mana, yang mendukung, apatis, super extrim dengan pro-ASI atau bahkan anti ASI eksklusif.

Dimulai orang terdekatku: kedua orang tuaku: mertua dan ibu. Salah satu dari mereka, sangat tidak yakin dengan kemampuanku memberikan ASIX (asi exclusive) pada anakku. Komentar negatif selalu diberikan, hingga pernah satu ketika aku tidak tahan dan histeris karena dia mengatakan lebih baik memberikan sufor daripada ASI pada anakku. Kelahiran anak kedua, aku dengan bangga dan tekad kuat untuk ASIX, tapi selalu trauma menyusui kalau dia ada didekatku. Rasanya seperti dihakimi oleh juri ASI. Apalagi dia pernah mengatakan: Kalau menyusui di PD yang satu, PD yang lain mengeluarkan ASI juga ga? Ketika aku jawab tidak, dia mengatakan: berarti ASI ku masih kurang. Oh please!

Sedangkan yang lainnya, mengerti pentingnya ASI buat anakku, tapi juga (sekarang aku tahu) tidak terlalu yakin aku sanggup memberikan ASIX pada anakku karena berat badan Sam yang hanya naik 500gr. Still dia menyimpannya diam-diam sambil terus memberikanku supply makanan yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI.

Perempuan lain: iparku, yang mengatakan aku terlalu pelit sehingga ngotot memberikan ASIX pada anakku. "Kenapa? Kamu sayang ya mengeluarkan uang untuk beli susu formula?"

Atau perempuan lain, yang begitu mengetahui anak pertamaku di bulan keempat mendapatkan tambahan sufor karena BB yang seret, mengatakan: "Wah, berarti anak elu anak sapi dong, bukan anak orang."

Wajah perempuan lain, kedua sahabatku yang menjadi teman curhatku tentang ASI. Dukungan penuh, tanpa judment membuatku nyaman diskusi ASI dengan mereka. Mereka bahkan tetap memberikan support penuh ketika aku memutuskan untuk menambahkan sufor buat Sam.

Oh satu lagi perempuan yang kutemui, seorang perawat klinik anak di RSIA Sri Ratu. Waktu itu aku membawa Sam untuk imunisasi. Aku konsultasi ke dokter kalau aku masih ASIX tapi BB Sam naiknya seret banget. Dia nyeletuk: Lha wong teteknya kecil begitu.

Ada begitu banyak wajah perempuan yang mendukung atau bahkan menghambat (langsung atau tidak langsung) pemberian ASIX. Dan aku semakin menyadari kehadiran mereka ketika aku mulai menyusui Sam dan Joy.

Wednesday, September 4, 2013

Obsesi: ASI Exclusive

Pernah nonton iklan rokok yang edisi Obsesi ga? Nah, seperti itulah kira-kira obsesiku ketika aku hamil anak pertama, obsesi: asi exclusive. Maka sejak hamil, aku langsung membuka-buka kembali bacaan tentang ASI, ikut milis ASI dan tentu saja makan makanan bergizi untuk dedek bayi dalam kandungan dan berharap akan memperlancar ASI ketika dia lahir nanti.

Berhasil?

Big NO.

Ketika Sam lahir dan suster membawa bayiku ke ruangan, ASIku belum juga keluar. Mungkin nanti, pikirku dan pasrah dengan sufor yang diberikan rumah sakit untuk bayiku. Hari keempat, ketika kami kembali ke rumah, ASI belum juga keluar. Ibuku memasak semua makanan yang dipercaya dapat memperlancar ASI, dokter juga memberiku Mollocco+B12, aku melakukan pijat dan kompres dan akhirnya cairan yang ditunggu-tunggu itu datang di hari keenam.

Aku sangat bersyukur dan bertekad menghentikan semua sufor itu. No more sufor, ASI thok!

Lancar?

Big NO.

Sam umur sebulan, ditimbang, berat badannya hanya naik 500gr. Aku masih ngotot ASI, sengaja aku memilih dokter yang katanya pro-ASI supaya ibu dan mertuaku bisa dengar bahwa bahkan dokter menganjurkan ASI saja. Aku harus lebih banyak makan makanan yang bergizi dan merangsang ASI sambil tetap menyusui Sam. Ibuku sampai harus tinggal sebulan dengan kami untuk menjadi juru masak khusus aku.

Berhasil?
Sayangnya tidak.

Aku  mulai kuatir ketika di bulan keduapun, kenaikan Sam hanya 500gr. Semua mulai heboh dan menekan (aku akan menceritakannya di post yang lain) untuk menambah dengan sufor. Aku masih ngotot. Apalagi waktu aku pernah menyerah, Sam langsung muntah2 begitu dikasih sufor. Dalam hati aku bersyukur Sam ogah minum sufor karena masih bertekad dengan ASI.

Aku makin banyak makan segala jenis sayur, makanan atau apapun yang katanya memperlancar ASI, name it, akan aku makan. Yang ada badanku makin melar, tapi kok ya anakku ga significant kenaikannya? Aku menelp konselor ASI yang tentu saja dia hanya bisa memberikan masukan berdasarkan data yang aku berikan, tapi dia tidak akan pernah bisa melihat apakah cara menyusui sudah benar atau belum karena tidak ada konselor laktasi di Medan. 

Bulan ketiga kenaikan masih 500gr. Akhirnya aku menyerah pasrah. Aku terobsesi, tapi sepertinya ada yang salah dengan aku sehingga kenaikan hanya 500gr, padahal dari teori yang ada paling sedikit naik 600gr. Akhirnya, ketika usia Sam tepat 4 bulan, aku menyerah dengan memberikan sufor.

Sedih?

Man, you have no idea how sad I was at that time.

Tapi akhirnya aku kembali pada prinsip awal: semua untuk kebaikan Sam. Aku menutup obsesi ASI-ku, aku bahkan berhenti membaca milis ASI (kenapa? aku akan menceritakannya di bagian lain) dan mengganti obsesiku dengan: untuk kebaikan Sam.