Pernah nonton iklan rokok yang edisi Obsesi ga? Nah, seperti itulah kira-kira obsesiku ketika aku hamil anak pertama, obsesi: asi exclusive. Maka sejak hamil, aku langsung membuka-buka kembali bacaan tentang ASI, ikut milis ASI dan tentu saja makan makanan bergizi untuk dedek bayi dalam kandungan dan berharap akan memperlancar ASI ketika dia lahir nanti.
Berhasil?
Big NO.
Ketika Sam lahir dan suster membawa bayiku ke ruangan, ASIku belum juga keluar. Mungkin nanti, pikirku dan pasrah dengan sufor yang diberikan rumah sakit untuk bayiku. Hari keempat, ketika kami kembali ke rumah, ASI belum juga keluar. Ibuku memasak semua makanan yang dipercaya dapat memperlancar ASI, dokter juga memberiku Mollocco+B12, aku melakukan pijat dan kompres dan akhirnya cairan yang ditunggu-tunggu itu datang di hari keenam.
Aku sangat bersyukur dan bertekad menghentikan semua sufor itu. No more sufor, ASI thok!
Lancar?
Big NO.
Sam umur sebulan, ditimbang, berat badannya hanya naik 500gr. Aku masih ngotot ASI, sengaja aku memilih dokter yang katanya pro-ASI supaya ibu dan mertuaku bisa dengar bahwa bahkan dokter menganjurkan ASI saja. Aku harus lebih banyak makan makanan yang bergizi dan merangsang ASI sambil tetap menyusui Sam. Ibuku sampai harus tinggal sebulan dengan kami untuk menjadi juru masak khusus aku.
Berhasil?
Sayangnya tidak.
Aku mulai kuatir ketika di bulan keduapun, kenaikan Sam hanya 500gr. Semua mulai heboh dan menekan (aku akan menceritakannya di post yang lain) untuk menambah dengan sufor. Aku masih ngotot. Apalagi waktu aku pernah menyerah, Sam langsung muntah2 begitu dikasih sufor. Dalam hati aku bersyukur Sam ogah minum sufor karena masih bertekad dengan ASI.
Aku makin banyak makan segala jenis sayur, makanan atau apapun yang katanya memperlancar ASI, name it, akan aku makan. Yang ada badanku makin melar, tapi kok ya anakku ga significant kenaikannya? Aku menelp konselor ASI yang tentu saja dia hanya bisa memberikan masukan berdasarkan data yang aku berikan, tapi dia tidak akan pernah bisa melihat apakah cara menyusui sudah benar atau belum karena tidak ada konselor laktasi di Medan.
Bulan ketiga kenaikan masih 500gr. Akhirnya aku menyerah pasrah. Aku terobsesi, tapi sepertinya ada yang salah dengan aku sehingga kenaikan hanya 500gr, padahal dari teori yang ada paling sedikit naik 600gr. Akhirnya, ketika usia Sam tepat 4 bulan, aku menyerah dengan memberikan sufor.
Sedih?
Man, you have no idea how sad I was at that time.
Tapi akhirnya aku kembali pada prinsip awal: semua untuk kebaikan Sam. Aku menutup obsesi ASI-ku, aku bahkan berhenti membaca milis ASI (kenapa? aku akan menceritakannya di bagian lain) dan mengganti obsesiku dengan: untuk kebaikan Sam.
Berhasil?
Big NO.
Ketika Sam lahir dan suster membawa bayiku ke ruangan, ASIku belum juga keluar. Mungkin nanti, pikirku dan pasrah dengan sufor yang diberikan rumah sakit untuk bayiku. Hari keempat, ketika kami kembali ke rumah, ASI belum juga keluar. Ibuku memasak semua makanan yang dipercaya dapat memperlancar ASI, dokter juga memberiku Mollocco+B12, aku melakukan pijat dan kompres dan akhirnya cairan yang ditunggu-tunggu itu datang di hari keenam.
Aku sangat bersyukur dan bertekad menghentikan semua sufor itu. No more sufor, ASI thok!
Lancar?
Big NO.
Sam umur sebulan, ditimbang, berat badannya hanya naik 500gr. Aku masih ngotot ASI, sengaja aku memilih dokter yang katanya pro-ASI supaya ibu dan mertuaku bisa dengar bahwa bahkan dokter menganjurkan ASI saja. Aku harus lebih banyak makan makanan yang bergizi dan merangsang ASI sambil tetap menyusui Sam. Ibuku sampai harus tinggal sebulan dengan kami untuk menjadi juru masak khusus aku.
Berhasil?
Sayangnya tidak.
Aku mulai kuatir ketika di bulan keduapun, kenaikan Sam hanya 500gr. Semua mulai heboh dan menekan (aku akan menceritakannya di post yang lain) untuk menambah dengan sufor. Aku masih ngotot. Apalagi waktu aku pernah menyerah, Sam langsung muntah2 begitu dikasih sufor. Dalam hati aku bersyukur Sam ogah minum sufor karena masih bertekad dengan ASI.
Aku makin banyak makan segala jenis sayur, makanan atau apapun yang katanya memperlancar ASI, name it, akan aku makan. Yang ada badanku makin melar, tapi kok ya anakku ga significant kenaikannya? Aku menelp konselor ASI yang tentu saja dia hanya bisa memberikan masukan berdasarkan data yang aku berikan, tapi dia tidak akan pernah bisa melihat apakah cara menyusui sudah benar atau belum karena tidak ada konselor laktasi di Medan.
Bulan ketiga kenaikan masih 500gr. Akhirnya aku menyerah pasrah. Aku terobsesi, tapi sepertinya ada yang salah dengan aku sehingga kenaikan hanya 500gr, padahal dari teori yang ada paling sedikit naik 600gr. Akhirnya, ketika usia Sam tepat 4 bulan, aku menyerah dengan memberikan sufor.
Sedih?
Man, you have no idea how sad I was at that time.
Tapi akhirnya aku kembali pada prinsip awal: semua untuk kebaikan Sam. Aku menutup obsesi ASI-ku, aku bahkan berhenti membaca milis ASI (kenapa? aku akan menceritakannya di bagian lain) dan mengganti obsesiku dengan: untuk kebaikan Sam.
No comments:
Post a Comment