Kadang-kadang aku perlu melakukan perjalanan. Aku tidak menggunakan kata 'harus' karena kesannya terlalu keras ya, harus - kaya ga punya pilihan, sedangkan perlu - kadang emang kita memilih untuk melakukan perjalanan itu. Yang aku bicarakan di sini adalah perjalanan tanpa membawa bayi.
Meski demikian, aku selalu berusaha untuk tetap memompa ASI selama proses perjalanan. Selain supaya stok tetap ada, juga untuk memastikan ASI-nya ga kering pas kembali pulang, kan kasian bayiku. Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk tetap memompa ASI meskipun dalam perjalanan?
- Apron menyusui. Kain ini sangat efektif dalam kegiatan memompa selama dalam perjalanan. Meskipun kadang aku memompa di nursing room, kan tetap aja ga rileks kalo ga pake penutup kaya apron itu. Jadi, apron adalah list yang harus aku bawa ketika travelling. Apron ini bisa dibeli online atau di toko peralatan bayi.
![]() |
| Botol penyimpanan ASI |
![]() |
| Tas penyimpanan ASI |
- Botol penyimpan ASI. Aku selalu mengandalkan botol UC1000 bekas. Duluuuu banget waktu jaman Sam, aku stok banyak botol ini. Tinggal beli tutupnya yang banyak dijual di toko plastik dan voila! jadilah botol penyimpanan ASI yang murah meriah. Daripada harus nyimpan di botol susu yang mahil itu. Selain mahil, juga makan banyak tempat. Botol ini bisa muat di kantong, jadi bisa ngabur bentar trus pas balik-balik botol udah masuk kantong baru kemudian di pindah ke tas hehehe.
- Tas penyimpanan ASI. Ini juga perlengkapan ASI lain yang aku beli online. Ada banyak sekali model tas penyimpanan ASI yang dijual. Punyaku yang ada dua kompartemen, bawah untuk ASI dan atas bisa untuk apa aja. Kenapa aku beli yang model begini? Karena yang paling murah hehehehe. Serius, tas ini kurang dari dua ratus ribu dan gratis ice gel hahaha. Tapi akhirnya, aku bersyukur memilih tas ini, karena sangat praktis untuk travelling atau ke kantor. Bagian bawah aku isi dengan ice gel, bagian atas aku isi dengan botol2 kosong plus kotak makan siang. Jadi, berangkat kantor cuma bawa tas tangan dan tas Gabag-ku ini. Oh, kalo perjalanan luar kota, tas ini aku isi juga dengan apronku.
- Ice Gel. Kadang orang menyebutnya dengan blue ice, karena ada yang warnanya biru. Dulu ga beli sih ya, ini bagian dari gratisan kalo beli tas di atas. Tapi pernah waktu travel, aku butuh ice gel tambahan, aku nyari di toko kaya Ace Hardware begitu, dapet blue ice. Kalo kemaren liat di link ol shop seharga 30-50ribu. Ice gel ini penggunaannya gampang banget. Tinggal dimasukkan di freezer sampe beku (kadang butuh semalaman), trus pas mau dipake diambil deh. Untuk ukuran ice gel seperti gambar di bawah, biasanya tahan 8-12 jam, tergantung suhu di luar juga. Pernah waktu travel ke Doloksanggul yang duingin itu, selama 12 jam masih ada bagian es yang membeku. Tapi pernah juga kurang dari 10 jam karena cuaca yang puanas. Well, biasanya sih, meskipun udah mencair, masih ada nuansa dingin, so, ASIP masih sangat aman. Ga tau juga sampe berapa lama ice gel itu bisa tahan. Yang sekarang aku pake, udah dipake sekitar 8 bulan ya, dan salah satu udah mulai brinjil2 gelnya, ga bentuk gel kaya waktu pertama kali beli. Mungkin sudah waktunya ganti, karena ada hubungannya dengan berapa lama dia bisa beku.
Biasanya, kalau travel aku membawa paling tidak dua ice gel ukuran besar, yang kalau diletakkan dengan posisi melintang memenuhi panjang tas (lihat gambar), lalu botol-botol berisi ASIP diletakkan di tengahnya. Kadang, kalau aku travel ke tempat yang minim fasilitas, misalnya hotel yang ga punya kulkas, maka aku biasanya berimprovisasi. Ice gel yang pertama akan aku titipkan di kulkas hotel, sedangkan ice gel yang kedua akan aku biarkan di tas. Ice gel yang di tas akan berguna ketika aku memompa ASI malam hari. Jadi habis pompa, posisi masih dingin. Paginya aku bisa titipkan semua ASIP yang aku pompa malamnya di kulkas hotel, plus ice gel yang di tas. Ice gel yang aku titip malam sebelumnya, aku ambil kembali untuk digunakan siangnya. Karena biasanya siang hari aku ke lapangan dan sering memompa di jalan, jadi butuh paling tidak satu ice gel. Pengalaman selama ini, suhu tetap dingin kok. Belum pernah diukur sama termometer sih, cuma cukup dingin, karena ice gelnya cukup besar.
Ice gel di bagian bawah tas
![]() |
| Botol-botol UC di bagian atas tas |
- Plastik penyimpanan ASI. Ini juga bagian peralatan tempur kalo lagi traveling. Terutama kalo travelnya lebih dari 2 hari. Kalo cuma dua hari sih, biasanya cukup bawa botol-botol UC itu. Tapi kalo udah lebih, bayangkan berapa banyak botol yang dibutuhkan. Bayangkan juga beratnya. Misalnya, kalo lagi travel butuh pompa 4-5 kali dalam waktu 24 jam.

Plastik dengan ASI yang sudah dibekukan - Sterilizer. Ini juga peralatan yang dibutuhkan kalo travelnya lebih dari 3 hari, kenapa? Karena kita butuh mensteril botol2 yang digunakan untuk menampung ASI sebelum dituang ke plastik. Karena sterilizer cenderung besar, eh bukan karena sterilizerku cenderung besar, maklum sekalian food processor, aku selalu membawa panci listrik yang kecil mungil. Dulu belinya di carefour jaman masih ngekos sana sini, karena sangat efektif kalo mau bikin mie instan hahahaha. Sekarang dia beralih fungsi jadi alat steril. Gampang kok, nyalakan kompornya, isi air, tunggu mendidih. Setelah mendidih, masukkan botol2 dan tutupnya. Setelah itu keringkan. Beratnya ga terlalu berat kok, kurang dari sekilo dengan watt yang kecil, jadi petugas hotel ga akan keberatan kok.
- Jangan lupa membawa pencuci botol dan sabunnya. Kalo travel di kota sih gampang ya, tinggal cari minimarket atau supermarket kita bisa beli. Lha, kaya aku yang kadang harus travel ke pedesaan, biasanya udah siap sedia, dimasukkan ke dalam koper.
Siap berangkat!
Eh, tunggu! Bagaimana dengan alat pompanya sendiri? Oh iya, maap, lupa disebutkan. Karena aku tipe emak-emak yang gagal menggunakan alat pompa baik yang manual maupun yang elektrik, maka tanganku ini adalah andalannya. Menurutku malah lebih praktis, apalagi kalo aku melakukan perjalanan yang bisa 10-12 jam di perjalanan. Tinggal cuci tangan bersih-bersih dan siap beraksi. Aku ga kebayang apa yang harus aku lakukan kalau harus menggunakan alat pompa itu, sterialnya gimana ya? Kata temen sih, tinggal pake tisu basah anti bakteri hmmm, mungkin bisa, tapi bagaimana menggunakan tisu untuk membersihkan selang-selang itu?
Eh, tunggu! Bagaimana dengan alat pompanya sendiri? Oh iya, maap, lupa disebutkan. Karena aku tipe emak-emak yang gagal menggunakan alat pompa baik yang manual maupun yang elektrik, maka tanganku ini adalah andalannya. Menurutku malah lebih praktis, apalagi kalo aku melakukan perjalanan yang bisa 10-12 jam di perjalanan. Tinggal cuci tangan bersih-bersih dan siap beraksi. Aku ga kebayang apa yang harus aku lakukan kalau harus menggunakan alat pompa itu, sterialnya gimana ya? Kata temen sih, tinggal pake tisu basah anti bakteri hmmm, mungkin bisa, tapi bagaimana menggunakan tisu untuk membersihkan selang-selang itu?



No comments:
Post a Comment